Sejarah Desa

Pada zaman dahulu, Sunan Kalijaga melakukan perjalanan ke arah selatan untuk syiar Islam. Dari Demak Bintoro, dia berangkat pagi-pagi. Lelaki yang diyakini sebagai Wali Allah itu keluar masuk hutan dan menyusuri desa-desa dengan berjalan kaki. Menjelang petang, Kanjeng Sunan sampai di sebuah dukuh kecil yang berada di lereng perbukitan. Di tempat itu, dia memutuskan menginap. Baru pagi harinya, dia melanjutkan perjalanan ke Ungaran. Beberapa hari kemudian, anggota Dewan Walisanga yang paling masyhur itu pulang ke Demak Bintoro. Seperti saat berangkat, dia memulai perjalanan pagi selepas subuh dengan berjalan kaki. Namun lagi-lagi saat sampai di dukuh itu, hari telah petang menjelang malam. Karena itu, Kanjeng Sunan sekali lagi harus menginap. Setelah mengalami hal itu, dia pun berujar. ”Besok rejaning zaman, dukuh iki tak jenengke Kawengen. Amarga ingsun tansah kewengen yen tumekan kene”. (Kelak kemudian hari, dukuh ini saya namakan Kawengen. Sebab, saya selalu kemalaman jika sampai di sini).” Menuruti ujaran orang suci tersebut, dukuh kecil di lereng bukit itu akhirnya dinamai Kawengen yang secara etimologis berarti kemalaman.

Seiring perjalanan waktu, penduduk Dukuh Kawengen yang secara administratif berada di wilayah Desa Kawengen, Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang itu kian bertambah. Dari semula beberapa rumah, berkembang menjadi permukiman. Namun karena faktor geografis dan kondisi alam, perkembangannya tak terlampaui pesat. Tanah di Dukuh Kawengen cenderung kering dan berkapur. Akibatnya, lahan pertanian bergantung pada curah hujan. Dengan kondisi itu, banyak warga yang hidup di bawah garis kemakmuran. Hasil bercocok tanam boleh dikata hanya cukup untuk makan. Sebagai tambahan, mereka harus melakukan pekerjaan sampingan. Saat musim kering misalnya, sebagian warga menjual tenaga ke kota sebagai kuli bangunan.

Terkait dengan hal itu, menurut cerita yang dikisahkan turun menurun dari sesepuh desa. Selama melakukan perjalanan, Sunan Kalijaga membawa serta seekor bebek yang bisa bertelur emas. Dengan binatang ajaib itu, dia menguji kejujuran tuan rumah yang diinapinya. Saat tengah malam, bebek Sunan Kalijaga bertelur emas. Melihat hal itu, tuan rumah ingin menukarnya dengan bebek biasa. Namun dengan kewaskitaan yang dimiliki, Kanjeng Sunan mengetahui akal bulus tuan rumah. Karena itu, dia kemudian mengucap kutukan. ”Wong dukuh kene ora bakal sugih yen ora kerjo ngongso (Warga dukuh ini tidak bakal kaya tanpa bekerja keras).”

Di dalam ruang lingkup masyarakat di pimpin oleh RT dan RW tugas mereka masing-masing adalah RT sebagai:

  1. Membantu menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat yang menjadi tanggungjawab  Pemerintah Kota
  2. Memelihara Kerukunan hidup warga
  3. Menyusun rencana dan melaksanakan pembangunan dengan mengembangkan aspirasi dan swadaya murni masyarakat.

Sedangkan tugas RW adalah sebagai beikut: Rukun warga merupakan organisasi masyarakat yang diakui dan dibina oleh pemerintah untuk memelihara dan melestarikan nilai-nilai kehidupan masyarakat Indonesia yang berdasarkan kegotongroyongan dan kekeluargaan serta untuk membantu meningkatkan kelancaran tugas pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan di desa dan kelurahan.

Kegiatan yang sering dilakukan oleh masyarakat adalah kerja bakti setiap hari minggu, tahlilan/yasinan yang di lakukan pada setiap malam jum’at, organisasi remaja yaitu karang taruna dan kegiatannya biasanya dilaksanakan pada saat 17 Agustus yaitu mengada lomba-lomba sedusun kawengen, dan kegiatan lainnya. Kebudayaan yang sering di lakukan sampai sekarang adalah Megengan atau sering di sebut padusan yaitu kegiatan yang dilakukan saat menjelang 1 hari sebelum bulan Ramadhan datang dan masyarakat pada saat itu melakukan ritual padusan bersama-sama entah di rumah atau di luar rumah , biasanya padusan itu dilaksanakan pada sore hari sekitar pukul 4 sore. Ada juga kebudayaan yang sering dilaksanakan pada setiap ada acara atau yang lainnya yaitu kesenian kuda lumping. Kebudayaan yang ada dimasyarakat kawengen ini adalah Kuda Lumping.

Facebook Comments